Safety Leadership

Management Site Visit : antara Transactional dan Transformational

Oleh : Roslinormansyah, MKKK *)

Seperti banyak dijumpai dalam praktik atau literasi tentang Leadership, kita dikenalkan dengan 3 model leadership, yaitu : transactional, transformational, dan servant.

Transactional Leadership adalah model kepemimpinan yang memfokuskan pada kepada patuhnya bawahan atau anggota tim terhadap sejumlah prasyarat atau aturan main yang telah ditetapkan. Bila patuh dan mengikuti apa yang telah dipersyaratkan maka bawahan atau anggota tim berhak mendapat sejumlah hadiah (reward) dan bila sebaliknya yang dilakukan oleh bawahan atau anggota tim maka mereka wajib mendapatkan sejumlah hukuman (punishment)

Transformational Leadership adalah model kepemimpinan yang melihat/memfokuskan pada bagian mengembangkan potensi atau kemampuan bawahan atau anggota agar dapat mengikuti prasyarat atau aturan yang ditetapkan dan pada akhirnya dapat mencapai target/kinerja yang sejak awal ingin dicapai.

Servant Leadership adalah model kepemimpinan yang melayani apa yang dibutuhkan (potensi, sumber daya, kebijakan, dll) oleh bawahan atau anggota tim untuk dapat memenuhi prasyarat atau aturan yang telah ditetapkan sehingga kinerja/target yang ditetapkan tidak hanya terpenuhi tapi juga terlampaui dengan signifikan

Dalam aktifitas mengembangkan safety leadership, penulis mendapat fakta bahwa model leadership yang banyak dipergunakan oleh para praktisi K3 (termasuk manajemen di dalamnya) adalah model transactional dan model transformational.

Kedua model ini makin kental sekali nuasanya ketika manajamen “turun ke bawah” atau m
Management Site Visit (MSV) dipakai sebagai salah satu aktifitas dalam safety leadership.

MSV yang mengadopsi transactional maka hasil yang didapatkan adalah seberapa banyak orang yang harus bertanggungjawab atas deviasi yang muncul ketika MSV dilaksanakan dalam satu lokasi. Bilamana tidak ada proses interview (why dan how) pada sejumlah orang tersebut dan kemudian terjadi penerimaan penghargaan atau hukuman maka MSV tersebut merupakan MSV transactional.

Menurut penulis berdasarkan pengalaman, MSV transactional merupakan langkah efektif ketika suatu project atau aturan main baru dijalankan atau diperkenalkan. Ini akan “memaksa” siapa saja yang terlibat dalam project atau yang bertanggungjawab menjalankan aturan tersebut untuk mempelajari dan memahami prasyarat-prasyarat di dalamnya. Namun dalam pengalaman penulis juga proses seperti ini “hanya” akan efektif pada 1-2 tahun pertama ketika project atau aturan baru tersebut baru dijalankan. Selebihnya dari 1-2 tahun tersebut kebanyakan terjadi abnormalitas. Abnormalitasnya adalah untuk menjaga agar tidak terjadi atau menerima “punisment” maka semua bentuk deviasi/ketidakpatuhan disembunyikan sehingga yang tampak pada “permukaan” adalah semua berjalan dengan normal. Abnormalitas akan berakhir ketika muncul suatu insiden atau bencana yang akhirnya menguak semuanya yang “tadinya disembunyikan” agar tidak terkena atau menerima punisment.

Oleh karena itu “feedback” atas MSV dengan model transactional perlu juga untuk disampaikan kepada manajemen dalam bentuk report hasil audit agar manajemen dapat melihat “lubang” secara atas project atau aturan baru yg baru diluncurkan tersebut.

MSV dengan model transformational, berdasarkan pengalaman penulis, sebenarnya lebih substansial untuk merubah kondisi dibanding model transactional. Namun tantangan terbesarnya adalah Knowledge dan Skill Manajemen di K3 harus memadai atau paling tidak memahami dengan baik maksud dan apa yang ingin dicapai dari setiap elemen sistem manajemen K3 (misal : mengerti dan paham betul atas elemen-elemen PP 50/2012).

 

Fokus utamanya BUKAN pada patuh atau tidak / menjalankan atau tidak tapi lebih fokus kepada bagaimana sumber daya manusia (SDM) yang ada dapat menjalankan aturan-aturan dengan sadar dan konsisten. Ciri utama biasanya terjadi “open discussion” antara manajemen dengan para front-liner untuk membahas apa yang dibutuhkan oleh front-liner tersebut untuk dapat memenuhi sejumlah aturan yang telah ditetapkan oleh manajemen. Front-liner diberikan kesempatan untuk menjelaskan oleh para manajemen saat MSV untuk menjelaskan berbagai tantangan dan juga kebutuhan dalam menjalan aturan-aturan tersebut. Manajemen kemudian menyusun suatu “shopping shop list” mengenai apa yang harus mereka (manajemen) lakukan agar front-liner ini betul-betul punya kecakapan, kemampuan, dan keahlian untuk menjalankan aturan-aturan yg ada agar target K3 (meningkatnya produktifitas) betul-betul tercapai dengan signifikan.

Sayangnya, dari pengamatan penulis, MSV dengan model transformational ini sangat jarang ada atau sangat jarang dijalankan oleh sebagian besar para top manajemen. Padahal kunci utama Safety Leadership ada pada model ini dan model Servant.

Jika MSV model transformational ini semarak dan juga MSV model servant muncul bagai jamur maka saat itulah kita bisa mengatakan bahwa Safety Culture is not dream again

*) Managing Director PT Naura Solusi Utama

(Bandara Halim, 15 April 2019)

Referensi :
1. Practical Safety Leadership – Luke Daniel, PhD
2. Leading with Safety – Thomas Krause, PhD
3. Value based Safety – Terry Mc Sween, PhD
4. Improving Safety Culture – Dominic Cooper, PhD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *