ERP – Sebuah Solusi

Faktor risiko terkait dengan operasi perusahaan akan selalu menyertai dan perlu untuk mendapatkan perhatian yang seruis dari semua pihak. Resiko seperti kebakaran dan ledakan akibat kesalahan prosedur pengoperasian; Bahkan tindak emergency medic seperti contoh kasus di atas yang terjadi dilingkungan kerja adalah ancaman serius yang harus ditanggapi.

Jika terjadi hal buruk pada peserta, pasti perusahaan/ training provider akan ikut memikul tanggung jawab.

Oleh karena itu tanggap darurat (Emergency Response) adalah hal yang wajib dikembangkan di perusahaan untuk mengantisipasi kerugian akibat bencana yang karena suatu hal dapat tidak terkendali.

keyword : Faktor risiko, Operasi Perusahaan, tanggap darurat, emergency Response

 

Kejadian / Contoh Kasus.Choking

Beberapa minggu lalu, penulis mendapatkan sebuah insiden yang terjadi di salah satu kelas pelatihan yang diadakan di TransWISH Indonesia. Salah satu peserta tersedak pada saat makan siang. Peserta tersebut memiliki riwayat pernah juga tersedak dan kesangkut makanan itu di tenggorokan dan jalur pernafasan.

Pada saat kejadian, peserta berusaha batuk dengan keras untuk mengeluarkan potongan makanan tersebut. Nafasnya tersengal karena jalur nafasnya terhambat. Beruntung Hadi, salah satu assist training dapat segera memberikan Heimlich Maneuvre dan mengeluarkan makanan yang tersangkut.

Namun karena riwayatnya tersebut, peserta masih merasakan hal yang kurang nyaman di jalur pernapasannya. Beberapa kali dicoba meminum air mineral botol masih tidak bisa masuk, bahkan dimuntahkan kembali karena terasa menggenang di jalur nafasnya. Air yang dikeluarkan dari tenggorokan menggenang di lantai ruang istirahat.

Instruktur yang sedang bertugas saat itu segera berkoordinasi dengan Penulis sebagai ERP Leader on duty. Apa yang harus dilakukan ?

Berhenti.

Kalau Anda berpikir Artikel ini hanya berupa Artikel Marketing seperti yang Anda baca di web  Training Provider Biasa, Jangan teruskan membaca. Close saja jendelanya dan berlalu.

Jika Anda mrasa artikel ini akan berguna untuk Anda, silahkan lanjutkan membaca.

 

Lanjut Kejadian / Contoh Kasus.

Di Training Provider, keselamatan dan kesehatan peserta menjadi tanggung jawab provider training. Bahkan jika peserta tersebut mengikuti training softskill seperti pada kasus ini.

Karena riwayat kesehatan peserta,peserta masih kesulitan dan merasa terganggu di pernapasannya. Maka kami mengeksekusi program Emergency Response Plan. Kondisi peserta sudah di luar kemampuan first aid yang dimiliki staff yang ada. Selanjutnya adalah Medical Evacuation.

Staff yang ditunjuk segera menghubungi Emergency Room Rumah Sakit Tebet; Staff yang lain menghubungi sekuriti agar pintu belakang gedung dibuka untuk kejadian emergency. Penulis ikut bersama team yang lain mengantar peserta dengan kendaraan kantor. Staf TransWISH yang lain menghubungi Person In Charge dari Perusahaan Peserta.

Sesampai di Rumah saki, peserta diberi tindakan oleh tim medis sekitar 1 jam. Setelah itu, peserta dapat kembali menelan air minum tanpa memuntahkannya kembali. Bahkan karena lega dan merasa sehat, dengan rekomendasi dokter peserta masih mampu kembali ke kelas dan meneruskan sisa pelatihan. Peserta ini disambut peserta lain dan instruktur dengan lega dan bahagia.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua tim yang terlibat saat kejadian.

Emergency Response Plan –  Sebuah Solusi

emergency planFaktor risiko terkait dengan operasi perusahaan akan selalu menyertai dan perlu untuk mendapatkan perhatian yang seruis dari semua pihak. Resiko seperti kebakaran dan ledakan akibat kesalahan prosedur pengoperasian; Bahkan tindak emergency medic seperti contoh kasus di atas yang terjadi dilingkungan kerja adalah ancaman serius yang harus ditanggapi.

Jika terjadi hal buruk pada peserta, pasti perusahaan/ training provider akan ikut memikul tanggung jawab.

Oleh karena itu tanggap darurat (Emergency Response) adalah hal yang wajib dikembangkan di perusahaan untuk mengantisipasi kerugian akibat bencana yang karena suatu hal dapat tidak terkendali.

Kenapa Perusahaan, termasuk Training Provider juga harus memiliki / mengembangkan Emergency Response Plan sendiri ?

Mari kita ingat kembali dalam Undang undang No 1 Tahun 1970 Tentang K3.

Baca Juga: Komunitas K3 – Kumpul Kagak Karuan ?

Keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik didarat, didalam tanah, dipermukaan air, didalam air maupun diudara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia;

Juncto pasal 2 Ayat 2 dilakukan Pendidikan, Pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset (penelitian).

Juncto Pasal 3 Ayat 1

Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk :

  • Mencegah dan mengurangi kecelakaan;
  • Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
  • Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
  • Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
  • Memberi pertolongan pada kecelakaan;
  • Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
  • Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran;
  • Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis, peracunan, insfeksi dan penularan;
  • Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
  • Menyelenggarakan suhu dan lembah udara yang baik;
  • Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
  • Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
  • Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan cara dan proses kerjanya;
  • mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang;
  • Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
  • Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan Penyimpanan barang;
  • Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
  • Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi;

Untuk dapat menerjemahkan syarat-syarat keselamatan kerja dalam UU No. 1 tahun 1970 maka perusahaan harus membuat emergency planning yang lengkap dan dapat diaplikasikan pada saat terjadi emergency (Firdy)

Maka dalam kasus di atas, Lingkup Keselamatan kerja termasuk memberikan pertolongan pada kecelakaan karena training provider masih dalam pendidikan dan pelatihan.

Peran Trainer / Instruktur Dalam Emergency Response Plan

Lalu sejauh mana peran trainer / instruktur dalam emergency response plan? Menurut para instruktur/ trainer yang bersertififikasi BNSP, perannya sangat penting.

Dalam Kepmenaker No 223 Tahun 2016 Tentang Penetapan Jenjang Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Bidang Pelatihan Sub Bidang Metodologi Pelatihan, Mewajibkan Instruktur Bersertifikasi BNSP untuk memenuhi Unit kompetensi KKK.00.02.012.01 Menerapkan Prinsip Kesehatan Kerja untuk Mengendalikan Risiko K3.

LSP Instrutur Kompeten lain bahkan menggunakan Standar Internasional, salah satunya adalah menggunakan standar dari Australia ini

TAAENV403B halaman 17. Yang harus disiapkan oleh trainer

  • Processes to provide clear OHS information to learners and/or assessment candidates
  • Processes to identify potential/real hazards/risks in the learning environment
  • Processes to communicate and consult with employers and other parties

Dalam salinan Kompetensi Internasional / Kompetensi Khusus yang diterima Penulis dari Lembaga Sertifikasi Profesi / BNSP, maka trainer (terutama yang bersertifikasi BNSP) harus mampu memiliki

Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan:

3.1. Mengidentifikasikan:

3.1.1. Kebijakan yang relevan, persyaratan hukum kode praktis dan standar nasional.

3.1.2. Peran pemberi kerja terhadap tanggung jawab kesehatan dan keselamatan kerja, pelatih/fasilitator, asesor, peserta dan atau kandidat, manajer dan supervisor.

3.1.3. Kewajiban peduli terhadap organisasi pelatihan dan atau asesmen, pelatih/fasilitator dan asesor.

3.1.4. Tanda-tanda bahaya dan resiko pada industri yang spesifik dimana pembelajaran dan atau asesmen akan dilaksanakan.

3.1.5. Strategi pengendalian resiko yang dapat diaplikasikan di industri dimana pembelajaran dan atau asesmen akan dilaksanakan.

3.1.6. Dasar pendekatan sistematis untuk K3.

3.1.7. Sumber-sumber informasi persyaratan K3 yang relevan dengan industri tertentu dimana pembelajaran dan asesmen dilaksanakan.

3.1.8. Dokumentasi K3 secara organisasional termasuk kebijakan, prosedur dan strategi pengawasan resiko.

3.1.9. Aplikasi jenjang pengawasan untuk menghadapi resiko di lingkungan pembelajaran.

3.1.10. Pengetahuan tentang lingkungan yang cukup untuk mengidentifikasikan tanda-tanda bahwa dan melaksanakan asesmen resiko yang sederhana.

3.2. Mengaplikasikan keterampilan:

3.2.1. Mengakses berbagai sumber informasi tentang K3.

3.2.2. Membaca dan memahami dokumentasi K3.

3.2.3. Menterjemahkan persyaratan hukum K3.

3.2.4. Menuliskan tanda-tanda bahwa dan laporan kejadian.

3.2.5. Kontribusi pengembangan rencana tindakan pengawasan suatu resiko (bila diperlukan).

3.2.6. Mengkomunikasikan dan konsultasi dengan berbagai pihak yang berbeda tingkatan dan latar belakang.

3.2.7. Menyimak dan meringkas poin-poin kunci, membuat pertimbangan dan artikulasi secara verbal.

3.2.8. Teknologi yang berhubungan dengan perangkat keras computer dan perangkat lunak yang relevan.

3.2.9. Negosiasi.

Lalu apa langkah kongkret yang harus dipersiapkan/dilakukan oleh sang Trainer dalam mendukung K3  di tempat kerjanya? (mempersiapkan emergency response plan)

Pertama,

Lakukan Job safety Analisys / Hazard Analysis dari tempat kerja. Dalam hal ini, maka kelas/workshop adalah tempat kerja yang harus dilakukan Job safety analysis.

Apakah ada barang atau benda yang berpotensi jatuh ?

Apakah ada benda yang bisa menyebabkan tersandung ?

Apakah ada posisi yang bisa mengakibatkan terkilir? Terjepit?

Dan sebagainya.

ERT_Logo

Kedua,

Informasikan Emergency Response Plan dan safety Induction sebelum memulai kelas.

Informasikan apa yang harus dilakukan jika terjadi emergency, kemana harus melakukan evakuasi (emergency escape plan) kalau bisa gunakan 2 alternatif. Kemana harus keluar (emergency exit). Kemana harus berhenti dan menunggu (Muster point/Assembly point).

Baca Juga: Gempa Terjadi Pada Saat Training ?

Jika terjadi hal buruk pada peserta, pasti perusahaan/ training provider akan ikut memikul tanggung jawab. Trainer juga pasti akan ikut secaara langsung. Tentu, kita sama sama tidak mau jika nama kita terkait dengan salah satu kecelakaan. Jangan sampai kita para trainer atau peserta kita menjadi bagian/statistic kecelakaan kerja.

Demikian tulisan sederhana sambil menunggu buka puasa ini, semoga bisa merefresh kembali para rekan saya trainer K3 dan trainer bersertifikasi BNSP lainnya. Semoga semua peserta, panitia dan trainer dapat pergi selamat dan pulang dengan selamat, Amiin.,

Luki Tantra

Associate Trainer for Safety and Softskill Training

Trainer Sertifikasi BNSP I Asesor BNSP

Menulis untuk TransWISH Indonesia.

 

Sources

  • Download TAAENV –>
  • https://www.softwarepublications.com.au/files/Samples/7-72-6%20-%20SHEA27_sample.pdf?phpMyAdmin=09226340d95e4ce7f9c2f459ec486098
  • http://firdyhs.blogspot.com/2012/05/peraturanperundangan-standard.html
  • https://yusufsafety.wordpress.com/2015/03/04/emergency-response-and-procedure/
  • Download Materi Tanggap Darurat PPTà
  • https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjsg7W7iLfbAhVFfisKHdkJAT4QFghRMAQ&url=http%3A%2F%2Fdinus.ac.id%2Frepository%2Fdocs%2Fajar%2FTanggap_darurat_Pertemuan_ke-5.ppt&usg=AOvVaw3fn7-2X1YimDAqV3UA_4g1
  • Undang Undang No 1 /1970

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *