Analisis Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan dengan menggunakan framework Gallagher dan Makin-Winder

Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) merupakan panduan penerapan K3 di semua kegiatan pertambangan di Indonesia. SMKP ini sendiri ditetapkan dengan peraturan menteri energi dan sumber daya mineral dengan nomor peraturan 34 tahun 2014. Menariknya adalah bahwa dalam pasal ketentuan peralihan, tidak disebutkan bahwa peraturan ini menggantikan Kepmen 555K/95 dimana Kepmen 555K ini merupakan panduan K3 bagi semua kegiatan operasional pertambangan di Indonesia selama hampir dua dekade.

Sebagaimana lazimnya sebuah panduan, SMKP ini memiliki 7 elemen yang menjadi fokus utama K3 di kegiatan pertambangan Indonesia. Elemen tersebut antara lain : Kebijakan, Perencanaan, Organisasi dan Personel, Implementasi, Evaluasi dan Tindak Lanjut, Dokumentasi, serta Tinjuan Manajemen. Dari 7 elemen tersebut kemudian dijabarkan secara rinci ke dalam 49 sub elemen (atau sub bab).

Secara garis besar pedoman SMKP ini tidak jauh berbeda dengan PP 50/2012 dan bahkan dibeberapa Bab terlihat adanya penegasan PP 50 ini yang terkait dengan kegiatan pertambangan. Seperti ada sistem manajemen K3 pada umumnya, SMKP ini sangat kental dengan penekanan pada aspek-aspek administrasi dan operasional (atau disini saya sebut sebagai aspek hardware) karena memang latar belakang terbentuknya SMKP banyak mengacu pada Kepmen 555K.

Siklus suatu manajemen sistem lebih tampak pada SMKP ini dibandingkan pada Kepmen 555K, atau bahkan dapat saya katakan konsep OHSAS 18000 memang sangat ditonjolkan dalam SMKP ini. Dimulai dengan memberikan prasyarat-prasyarat pada kebijakan, kemudian dijelaskan apa saja yang harus dilakukan pada fase perencanaan, bagaimana menerapkannya agar sejalan dengan kebijakan dan perencanaan yang sudah dibuat, bagian apa saja dan bagaimana melakukan kaji ulang sistem yang sudah disusun, dan bagaimana membuat dan menyimpan segenap catatan sistem manajemen yang telah diterapkan merupakan rangkaian kegiatan dari SMKP ini. Sangat sistematis bila dilihat dengan menggunakan kacamata atau konsep PDCAnya manajemen.

Pada paper ini akan mengkaji kriteria SMKP dengan menggunakan kerangka analisis yang dikembangkan oleh Mankin (2008) dan Gallagher (2000) untuk melihat bagaimana strategi yang dikembangkan dalam SMKP ini menurut kerangka analisis kedua peneliti tersebut.

Claira Gallagher pada tahun 2000 mengembangkan sebuah metode untuk melihat efektifitas suatu sistem manajemen K3 dengan menggunakan empat pendekatan utama, yaitu : safe person, safe place, traditional management, dan innovative management. Dimana dari ke empat pendekatan utama ini dapat difokuskan kepada : control employee behaviour, control of hazard at source in design stage, top management involvement, employee involvement, dan integration to management system and practices. Dengan menggunakan ke empat pendekatan tersebut akan dapat dilihat suatu sistem manajemen termasuk kategori : *Sophisticated Behavioral(Innovative/Safe Person),Adaptive Hazard Managers(Innovative/Safe Place),Unsafe Act Minimisers(Traditional/Safe Person)* atau *Traditional Engineering and Designs (Traditional/Safe Place).*

Kriteria-kriteria SMKP bila dikaji dengan menggunakan analisis Gallagher dapat disebutkan bahwa kriteria SMKP tersebut mengarahkan perusahaan-perusahaan tambang untuk menuju ke Adaptive Hazard Managers dengan pertimbangan sebagai berikut :
1. Manajemen puncak dan manajemen lini sangat tegas peran dan tanggung jawabnya dalam bab kebijakan, bab perencanaan, dan bab organisasi personel
2. Identifikasi, analisis, dan pengendalian resiko sangat ditekan pada setiap aspek perancangan kegiatan, proses, bahan, peralatan dan kompetensi sumber daya manusia.
3. Integrasi manajemen K3 dalam sistem manajemen yang lain, terutama manajemen Keselamatan Operasiona, sangat jelas dan detail.
Meski demikian, dalam SMKP tidak terlihat dengan jelas dan tegas bagaimana perilaku manusia dikelola dan diperbaiki secara terus menerus. Kompetensi ataupun pelatihan memang diberikan porsi yang signifikan dalam SMKP tersebut akan tetapi bagaimana membentuk keandalan manusia (Human Reliability) agar mampu meminimalkan “kegagalan/error” tidaklah diberikan kriterianya, terutama konsep behavioral safety tidak diberikan porsi yang cukup dalam SMKP tersebut.
Berbeda dengan Gallagher, A.M. Makin dan C. Wider pada tahun 2008 juga memberikan kerangka analisis yang dipergunakan untuk memperbaiki kinerja manajemen K3 yang ada di suatu perusahaan. Makin menggunakan tiga faktor dalam melihat kinerja suatu manajemen K3, yaitu : Safe Person, Safe Place, dan Safe System. Kriteria dari safe person dan safe place yang dikembangkan oleh Makin sedikit lebih detail dibandingkan kriteria safe person dan safe place yang dipakai oleh Gallagher.

Sama seperti Gallagher, faktor yang dikembangkan oleh Makin dan Winder dapat pula dipakai untuk melihat kekurangan dari SMKP.

Dalam SMKP, kriteria Safe Place-nya Makin semuanya telah diakomodir karena memang SMKP dibangun dari “ruh” Kepmen 555K. Mulai bab kebijakan hingga bab evaluasi dan tindak lanjut, hampir semua sub bab atau sub elemennya membahas secara detail hal-hal yang masuk sebagai kriteria safe place. Begitu juga dengan kriteria Safe Systems juga telah dijabarkan secara tegas dalam bab perencanaan dan bab implementasi dari SMKP.

Namun pada faktor safe person, SMKP tidak banyak memberikan ruang pembahasan yang tegas dan detail pada bab-bab nya. Selection criteria, Accommodating diversity, Behaviour Modification, Networking-Mentoring, dan Review of Personnel turnover merupakan kriteria-kriteria dalam faktor safe person Makin yang tidak dibahas secara tegas dan detail dalam SMKP. Bila diukur dengan prosentase maka prosentase safe place dalam SMKP adalah sebesar 45 %, safe system sebesar 35 %, dan safe person sebesar 20 %. Konsep Behavior Modification juga memegang peran signifikan pada ketiga faktor tersebut. Tanpa adanya penekanan kepada aspek-aspek perilaku maka SMKP mempunyai tantangan yang cukup besar untuk membantu perusahaan-perusahaan pertambangan mencegah terjadinya kerugian atau kecelakaan kerja lainnya yang berdampak lebih luas.

Meski sudah disahkan dan sudah mulai diaplikasikan pada semua perusahaan pertambangan, SMKP tetap punya peluang untuk diukur, dievaluasi, dan sekaligus direvisi bilamana keberadaan SMKP sendiri belum mampu membuat manajemen K3 yang dikembangkan oleh perusahaan pertambangan menjadi lebih efektif untuk mencegah kerugian.

Ini artinya bahwa assessor SMKP harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai Human Risk dan Human Behavioral pada saat melakukan assessment ke perusahaan pertambangan yang menerapkan SMKP tersebut. Dengan kompetensi seperti itu maka diharapkan perusahaan yang mengadopsi SMKP dapat mencapai budaya K3 yang baik, benar, efektif, dan konsisten melakukan upaya perbaikan secara terus menerus.

Kepustakaan
1. Peraturam Menteri Energi dan Sumber Daya Minerl No. 38 tahun 2014. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral : 2014
2. Gallagher, Claire. Occupational Health & Safety Management System : System Types and Effectiveness. PhD Dissertation. Australia : Deakin University ; 2000.
3. Makin, AM, Wilder, C. A new conceptual framework to improve the application of occupational health and safety management systems. Safety Science Vol 46 : Elsevier : 2008 ; 935-948
4. McSween, Terry E., Value-Based Safety Process : Improving Your Safety Culture With Behavior-Based Safety. 2nd Edition. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc. 2003.
5. Lutchman, Dr. Chitram., Maharaj, Dr. Rohanie., Ghanem, Eng. Waddah. Safety Management : A Comprehensive Approach to Developing a Sustainable System. Florida : CRC Press ; 2012
6. Cooper, Dominic. Treating safety as value. Profesional Safety Journal. 2001 : 17-21.

Penulis :

Roslinormansyah Ridwan (cak ros)

Anggota HSE Indonesia Regional Jakarta

(PT Naura Solusi Utama )

3 Responses to Analisis Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan dengan menggunakan framework Gallagher dan Makin-Winder

  1. erika dwi saputra says:

    Dear Cak Ros,

    Terimakasih atas artikel yang sudah disampaikan. Mohon informasinya apakah cak Ros bisa membantu kami ( PT. Harmoni Mitra Utama ) untuk mengembangkan SMKP di perusahaan kami ?

    Sebagai informasi, PT.Harmoni Mitra Utama adalah perusahan jasa transportasi dan pergudangan yang banyak mensupport pengelolaan warehouse di area tambang.

    Demikian dari kami, terimakasih atas perhatiannya dan ditunggu konfirmasinya.

    Salam,
    Erik

    • adminhse says:

      Mbak….

      langsung bisa contack by email atau phone yang tertera di bawah artikel..

      terima kasih

      Admin

  2. Rani S says:

    bagaimana cara menggunakan framework Gallagher dan Makin-Winder?

Leave a Reply to erika dwi saputra Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *