PENCEMARAN TIMBAL HAMBAT PERTUMBUHAN DAN KECERDASAN

Jangan sepelekan asap yang keluar dari kendaraan. Timbal atau Plumbum (Pb), satu dari sekian banyak zat polutan yang ditimbulkan dari asap kendaraan, dapat mencemari kesehatan manusia, terutama anak. Penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia mengungkapkan bahayanya timbal pada anak-anak.

Hidup kita tak lepas dari udara. Ke mana pun berada bersentuhan bahkan menghirup udara. Bila udara tercemar sudah pasti kita dan anak menghirupnya, lalu tubuh pun ikut tercemar. Kenyataannya, hasil penelitian Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesian (FKM UI) bicara demikian.

Penelitian pada 2001 menunjukkan kadar timbal dalam darah anak-anak di Jakarta cukup tinggi, yaitu rata-rata 8,6 microgram/desiliter. Angka tersebut mendekati ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 10 microgram/desiliter. Bahkan dari seluruh anak-BERAPA– yang diukur kadar timbal darahnya, 35% nya sudah melewati ambang batas.

Pada 2003, beberapa bulan sebelum pemerintah menghapuskan program bensin bertimbal, FKM melakukan penelitian lagi. “Kita meneliti kembali kadar timbal dalam darah anak, dengan maksud membandingkan pencemaran timbal pada darah anak sebelum program bensin bertimbal diterapkan, dengan setelah program tersebut dilaksanakan,” terang kepala Departemen Kesehatan Lingkungan FKM, Budi Haryanto. Hasilnya?

“Belum selesai penelitiannya. Tapi, jika program penghapusan bensin bertimbal di Jakarta berjalan sebagaimana mestinya, logikanya kadar timbal dalam darah anak mestinya menurun secara signifikan, karena pencemarnya dianggap sudah tidak ada.” Persoalannya, menurut Budi Haryanto, penghapusan bensin bertimbal di Indonesia ini termasuk terlambat dan tersendat. Lambannya penerapan program penghapusan bensin bertimbal di negeri ini terutama disebabkan oleh faktor politis, dan bisnis tingkat tinggi. Karena itu, bisa dipastikan, darah anak-anak kita makin tercemari timbal, yang kata Budi, sangat berbahaya. Memang tak langsung namun lambat laun, daya dengar dan kecerdasan anak akan menurun. Itu hanya salah efeknya saja.

Lewat Udara dan Makanan
Berdasarkan pernyataan Organisasai Kesehatan Dunia (WHO), timbal merupakan salah satu bahan pencemar yang berbahaya. Oleh karenanya WHO melarang penggunaan bensin bertimbal di seluruh dunia sejak tahun 80-an. Jadi saat ini, tinggal sejumlah kecil negara saja yang masih menggunakan bensin bertimbal, termasuk Indonesia.

Menurut pakar kesehatan lingkungan FKM UI I Made Djaja, MD, MPH, MSc, Ph.D, timbal merupakan salah satu bahan pencemar berbentuk partikel atau debu. Pencemaran timbal bisa melalui, pernafasan, pencernaan, kulit. Karena pencemaran timbal kebanyakan disebabkan oleh asap kendaraan bermotor maka hampir 80% pencemaran timbal pada manusia berlangsung melalui udara. Sedangkan 14% melalui pencernaan, dan sisanya kulit. Pencemaran melalui udara terjadi melalui pernafasan, sedangkan pencernaan melalui makanan atau air yang diminum. Pipa saluran air yang terbuat dari besi juga mengandung timbal dan makanan yang dijual di pinggir jalan juga bisa tercemar timbal. Sedangkan pencemarannya pada kulit bisa bersumber dari air yang tercemar timbal maupun dari udara.

Di Jakarta, kata Made, timbal berbentuk partikel-lah yang paling tinggi kadarnya di udara. Karena pencemaran udara ibukota kebanyakan berasal dari asap kendaraan umum, terdapat di lokasi-lokasi seperti terminal, SPBU, pintu tol, dsb. Ditambah lagi di daerah pabrik, terutama di pabrik keramik, tempat pengelasan, dan percetakan.

Di antara zat polutan (pencemar) hanya timbal yang tidak dapat dideteksi kadar tinggi rendahnya di udara karena tercampur dengan gas lainnya. Namun kadar timbal bisa diketahui setelah cek darah,” jelas dokter yang pernah meneliti kadar timbal dalam darah polisi dan petugas DLLAJR ini.

Mengganggu Kerja Otak
Doktor yang lebih suka mengajar dan meneliti ini mengatakan, timbal yang bersemayam dalam darah akan mengganggu albumin, yaitu enzim yang berfungsi sebagai pengangkut berbagai zat berguna. Akibatnya, seluruh fungsi organ tubuh bisa terganggu. Salah satu yang berbahaya adalah mengganggu kerja otak. Timbal juga bisa berikatan dengan enzim-enzim yang terdapat sistem saraf di otak. Sehingga akan timbul reaksi berupa kesemutan, gemetar, dan gangguan keseimbangan. Bahkan kalau lebih parah lagi, bisa menurunkan intelegensi. “Tidak langsung dampaknya. Tapi lambat laun. Anak yang lambat kerja otaknya, lambat perkembangan tubuhnya, di antarantya disebabkan timbal ini,” tegas Made Djaja.

Dikatakan Made, keracunan timbal akut bisa menimbulkan reaksi spontan pada tubuh. Keadaan ini hanya bisa karena kecelakaan. Misalnya terminum pestisida yang mengandung banyak timbal, atau menghirup fume, asap industri dan kendaraan dengan frekuensi berlebihan, karena seseorang terlalu lama berada di dekat lokasi bertimbal tinggi, hingga berakumulasi dalam tubuh. Prosesnya bisa berlangsung bertahun-tahun tergantung kadar timbal dan tingkat keseringan orang terpajan timbal.

Tingkat kecepatan timbal untuk bisa mengganggu kesehatan tergantung pada dua hal yaitu, dosis yang masuk ke dalam tubuh dan darah, proses pengeluaran timbal oleh tubuh. Makin cepat timbal keluar, maka semakin lamban tubuh terganggu oleh timbal. Juga lamanya seseorang terpajan di lokasi berkadar timbal tinggi.

Alami Kendala Atasi Pencemaran
Pemerintah kita sebenarnya sudah punya program penghapusan penggunaan bensin bertimbal sejak 1992. Tapi, karena sejumlah kendala, program penghapusan bensin bertimbal ini baru bisa berjalan pada 2001. Program tersebut rencananya dilaksanakan secara bertahap 2001 di Jakarta, 2002 seluruh Jawa, dan 2003 seluruh Indonesia sudah bebas timbal. Namun hingga 2004 ini, baru beberapa kota yang sudah bebas bensin bertimbal, yakni Jakarta, Surabaya, Batam dan Bali.

Karena baru empat kota saja yang dinyatakan bebas bensin bertimbal, maka kata Budi, kemungkinan pencemaran timbal melalui udara masih bisa terjadi. Hal itu disebabkan, masih adanya ribuan kendaraan dari luar kota yang belum bebas timbal, keluar masuk kota yang sudah dinyatakan bebas bensin bertimbal.

Hal ini diakui oleh Asisten Deputi V Kementrian Lingkungan Hidup Ridwan Tamin. Sejumlah kendala terutama di Pertamina. Pasalnya BUMN masih menghadapi beberapa masalah intern yang sifatnya sangat kompelks. “Saat ini kita sedang mengusahakan payung hukum berupa Instruksi Presiden yang digodok di Departemen Pertambangan dan Energi,” kata Ridwan yang departemenya sedang berupaya mendorong program Indonesia bebas bensin bertimbal pada 2005.

Mungkinkah? Mengingat saat ini tingkat pencemaran udara di Jakarta peringkat ke tiga di dunia. Dalam setahun, hari berudara bersih hanya sekitar 15% berarti sama dengan 15 hari, berarti sisa hari yang lain udara Jakarta dipenuh bahan pencemar. Ooo…nasib anak-anak kita di masa depan, entah seperti apa.

Efek Timbal pada Anak, Ibu Hamil dan Menyusui
Menurut pakar kesehatan lingkungan FKM UI I Made Djaja, MD, MPH, MSc, Ph.D gejala yang paling sering timbul pada orang yang tercemar timbal adalah pusing dan lesu. Tapi bukan berarti bisa langsung disimpulkan kalau seseorang tercemar timbal. Untuk mengetahui kalau seseorang tercemar timbal, diperlukan analisis tertentu. Namun, apa saja sebenarnya efek timbal?
1. Gangguan saraf yang ditunjukkan dengan reaksi, kesemutan, dan gemetar. Karena timbal yang masuk ke dalam tubuh manusia bercampur dengan enzim pembentuk sel darah merah. Enzim dan darah berfungsi menjalankan metabolisme organ dalam tubuh. Antara lain mengantarkan zat makanan dan oksigen yang diangkut oleh darah. Jika jumlah timbal yang berikatan dengan darah terlalu tinggi, maka darah tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Selanjutnya, metabolisme tubuh terganggu, karena alat pengangkut zat-zat yang dibutuhkan organ tubuh lainnya tidak terhambat.

2. Gangguan pencernaan, seperti mual dan muntah.
3. Gangguan sistem pembentukan darah berupa anemia atau kurang darah. Akibatnya, pertumbuhan terganggu, kemampuan pendengaran menurun, dsb.
4. Gangguan kecerdasan, dengan reaksi sering lupa dan prestasi menurun. Ketika masih anak-anak, efek timbal terhadap kecerdasan belum terlihat jelas. Tetapi ketika memasuki usia sekolah menengah, anak menjadi sulit menangkap pelajaran, sering lupa, dsb.
5. Karena timbal dibawa oleh darah, maka wanita hamil dan janin pun bisa tercemar. Kadar timbal dibawa oksigen bersama-sama dengan nutrisi ke janin. Dengan begitu, secara otomatis asupan timbal ke dalam janin juga tinggi. Jika kondisi ini berlangsung terus menerus maka janin tidak berkembang, bahkan bisa meninggal dalam kandungan.
6. Pada ibu menyusui, timbal tidak akan masuk ke dalam tubuh bayi yang melalui air susu. Karena susu ibu mengandung kalsium dan antibodi yang cukup tinggi, sehingga bayi tidak tercemar timbal, meskipun kadar timbal darah pada ibu menyusui sudah melewati ambang batas.

Cara Aman Hindari Timbal
Kata Budi dan Made, kadar timbal di lokasi anak beraktivitas seharusnya diukur lebih dahulu, guna memotong sumber timbal. Sayang, belum bisa dilakukan negeri kita. Yang bisa dilakukan:
• Membatasi tempat bermain anak dengan tembok tinggi dan menanam pohon. Efektivitas dari pembatas itu tergantung dari kualitas dan kuantitas timbal yang dikeluarkan oleh sumber pencemar.
• Memasak sayur mayur hendaknya dicuci bersih agar timbal yang mungkin menempel hilang. Ciri sayur yang tercemar adalah terdapat bintik -bintik berwarna hitam. Namun ciri bisa sama dengan bekas ulat, jadi perlu pemeriksaan lewat mikroskop. Jika timbal sudah masuk dalam sayur meski dimasak tetap tidak bisa dihilangkan
• Lebih aman jauhi anak dari lokasi berkadar timbal tinggi.

Kalau Tak Cukup Buang Saja!
Lia Marliana (28) Marketing

Saya tidak tahu persis seperti apa efek pencemaran timbal pada anak-anak. Kalau memang timbal dapat menurunkan kecerdasan dapat menghambat perkembangan anak sebaiknya tidak hanya pemerintah saja yang memEcahkan masalah. Masyarakat, terutama pemilik kendaraan bermotor, harus sadar kalau asap kendaraannya dapat menyebabkan anak menjadi bodoh.

=====
Nila Sofianti (33) Copy Writer, Ibu rumah tangga:

Orang dewasa yang telah mengerti bahayanya pencemaran timbal, sebaiknya turut melindungi anak yang masih dalam perkembangan timbal dan bahan-bahan pencemar apapun. Karena akibatnya sangat merugikan, apalagi anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Jika semakin banyak anak terhambat perkembangannya maka bangsa ini tidak bisa bersaing dengan negara lain dunia.(ivan/anggi)

Penulis :

Puji Utomo – Balikpapan

HP : 081347988596

Email : utomo_puji@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *